13 October, 2008

Post oleh : SAIFUDDIN | Rilis : 7:20 AM | Series :

Hasan Tiro: “Jaga Damai Walau Saya Telah Tiada”

Banda Aceh Deklamator Gerakan Aceh Merdeka Teungku Hasan Muhammad Di Tiro, Minggu (12/10),

menziarahi sejumlah makam di Banda Aceh maupun di Aceh Besar, termasuk makam kakek buyutnya Tgk Chik Di Tiro di Desa Meureue, Indrapuri, Aceh Besar. Dalam pidatonya, Hasan Tiro selalu meminta rakyat Aceh untuk mempertahankan damai walau dirinya telah meninggal dunia kelak.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kemarin, rombongan berangkat dari Meuligo Gubernur Aceh ke makam Sultan Iskandar Muda di kompleks Museum Aceh. Usai dari situ, rombongan berziarah ke makam ulama besar Syech Abdurrauf bin Ali Al Fansuri As-Singkili atau yang lebih dikenal dengan Syiah Kuala, di Desa Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Sekitar pukul 12.45 WIB, Hasan Tiro bersama mantan petinggi GAM menuju makam Tgk Chik Ditiro di Desa Meureue, Indrapuri, Aceh Besar. Di sepanjang jalan menuju makam, masyarakat menyambut kedatangan Hasan Tiro dengan rangkaian ucapan selamat datang, mulai dari jalan negara hingga di makam yang dituju.

Asalamualaikum, Allahuakbar, u loen tuan ka troeh lon woe u tanoeh Aceh, thank you (saya sudah bisa kembali ke tanah Aceh, thank you),” ucapnya samar ketika berpidato di kompleks makam Tgk Chik Di Tiro.

Selanjutnya sambutan Hasan Tiro dibacakan oleh Malek Mahmud di hadapan ribuan warga Indrapuri, anak yatim dan janda korban konflik yang khusus didatangkan panitia untuk menyambut orang yang di kalangan GAM disebut Wali Naggroe.

Lagi-lagi Hasan tiro berpesan agar masyarakat Aceh dapat terus menjaga perdamaian di Aceh. Kepada janda korban konflik dan para pemuda di Aceh, Hasan Tiro berpesan agar tetap bersabar, tabah dan terus menyatukan barisan menjaga damai dan membangun Aceh di masa damai ini.

Uloen peu troeh sigoe teuk bak droeneuh, adak beusingoh ulon woe bak Allah, dame njoe neujaga, dame nyoe beuneupejak, beu jroeh keu geutanyoe mandum sampe keu aneuk tjutjo,” ujarnya.

Hasan Tiro juga mengucapkan selamat kepada mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari yang telah mendapatkan nobel perdamaian karena berhasil memfasilitasi perdamaian di Aceh. Dia berharap, damai di Aceh harus menjadi contoh bagi penyelesaian konflik di dunia.

Nyoe kon haba uloen manteng, donya ka djikaloen, dan djithee, nakeuh dame geutanyoe djinoe beu jeut keu tjeunto, keubansa-bansa ban saboh donja,” lanjutnya.

Selain itu, Hasan Tiro juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung proses perdamaian di Aceh. Dia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang telah berani dan bijaksana untuk berdamai dengan masyarakat Aceh.

“Di ateuh pangkai njan bandum na keuh pangkai peumerintah Soesilo Bambang Yhudoyono ngon Jusuf Kalla jang ka guetjok langkah beuhe ngon bijaksana geumeudame ngon geutanyoe. Ulon lakee bak dron, neupeusaboh droeneuh bandum deungon ulon mengat ta utjab terimoeng geunaseh jang that lambong keu pihak-pihak jang ka geubantu peudame Aceh,” paparnya.

Usai berpidato, seluruh masyarakat yang dipimpin Tgk Muhibuddin Waly membacakan salawat badar menghantarkan rombongan menuju mobil yang membawa mereka.

Setelah ziarah ke makam Tgk Chik Ditiro, Hasan Tiro kembali ke Banda Aceh dan menyempatkan diri ziarah dan berdoa di kuburan massal korban tsunami di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Hasan Tiro yang lahir di Tiro, Kabupaten Pidie, 4 September 1930 untuk pertamakalinya kembali menginjakkan kaki di kampung halaman pada Sabtu (11/10), setelah sekitar 30 tahun meninggalkan Aceh dan menjadi warga negara Swedia.

Dia adalah keturunan ketiga Tengku Chik Muhammad Saman Di Tiro atau disebut Tgk Chik Ditiro. Hasan Tiro merupakan anak kedua pasangan Tengku Pocut Fatimah dan Tengku Muhammad Hasan. Tengku Pocut adalah cucu perempuan Tengku Chik Muhammad Saman Di Tiro yang juga Pahlawan nasional Indonesia itu.

Lulusan Columbia University, Amerika Serikat, ini pada 11 Maret 1987 menjadi warga negara Swedia dengan nomor induk kependudukan (NIK) 250925-7016. Sementara Dora, istrinya, tinggal di AS. Demikian pula anak tunggalnya Karim Tiro, yang tinggal seorang diri di apartemennya.(udin)

google+

linkedin